Nama:
Lokasi: Klungkung, Bali, Indonesia

Senin, 30 Agustus 2010

PRASASTI DE ANGLURAH KEDANGKAN DENGAN BHS. INDONESIA

PRASASTI DE ANGLURAH KEDANGKAN

TOSNING IDA ANGLURAH KEDANGKAN

Om Awignamastu Namasidem

Inilah Prasasti Ida Anglurah Kedangkan di Desa Selisiban Klungkung, sebagai putra dari Sang Wira Dangka, keturunan dari Sang Sapta Rai, yang paling bungsu Ida Mpu Dangka, putra dari Ida Mpu Gnijaya sebagai keturunan Brahmana Jati.

Pengaksama / permakluman kami kehadapan Betara Hyang Mami yang bergelar Omkara Hradaya Namab Swaba, Suhia Loka, Sida Loka Suara Anugrahkanlah hamba/ ijinkan hamba menceritakan segala masa lalu yang telah menyatu dengan Hyang Widhi, Om Bhur, Bwah, Swah semoga tidak berdosa, terikat usana, semoga tidak alpaka dari penciptaan Sang Hyang purwa Tatwa, begitu juga dengan seketurunan hamba, bebaskanlah hamba dari alpaka kehadapan Ida Hyang Widhi, maka wigraha mala papa petaka, bisa terbebas dari kutukan Sang Hyang Widhi, membicarakan masa lalu, sekarang dan yang akan datang, juga menemukan kebahagiaan sekala niskala / lahir bathin, anugrahkanlah hamba agar sempurna menemui panjang umur, kebahagiaan untuk keluarga dan alam semesta.

Inilah sebagai awal cerita, dahulu kala saat belum ada apa-apa, tidak ada Matahari, Bulan, Bintang, Bumi, hanya ada Sang Hyang Embang Maha Tunggal, besar tetapi kecil, tidak ada tetapi ada, Nirak satah Suda Dewa Ika, Sang Hyang Tunggal, berwarna tetapi tidak, ada nafsu/keinginan dan ketergantungan, ada penuh atmosfer / udara yang diberi nama Widhi Tatwa, Purana Dewa Tatwa, juga Aksara utama bernama Windu (o), berwujud Sang Hyang Widhi, bunyinya seperti telinga ditutup, Windu juga Sang Hyang Kawi, Windu juga hampa, juga kosong tetapi penuh ada dimana-mana tanpa awal dan akhir, berstana / bertempat di Cakra Sunia Maha Widhi, bergelar Sang Hyang Widhi, maha Tahu, Maha Karuni / pengasih, Maha Metri / penyayang lalu beliau mengadakan yoga semedi, dari yoga beliau muncullah atau lahirlah Sang Hyang Licin bernama Sang Hyang Eka Aksara ( ) selanjutnya Sang Hyang Eka Aksara juga beryoga menurunkan Sang Hyang Purusa Pradana, bergelar Sang Hyang Aksa, Pertiwi bergelar juga Rwa Bineda, Dwi Aksara Ang, Ah, selanjutnya Sang Hyang Purusa lan Pradana beryoga timbul / lahirlah Sang Hyang Tri Purusa bergelar Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, bergelar juga Sang Hyang Tri Aksara : Ang, Uang, Man, lama kelamaan juga melakukan yoga semedi, lalu muncullah Hyang Catur Purusa bergelar Sang Catur Windu Dewa diantaranya : Pertama, Sang Hyang Amurwa Sakti, Kedua, bergelar Sang Hyang Sakti Sapta Kedua, ketiga bernama Sang Hyang Surya Rsi Wu dan yang terakhir / keempat, Bergelar Sang Hyang Guru Pasupati, dahulu kala saat ada sakti tak terkalahkan, tidak berstana, menyeramkan, bertaring mengkilap seperti raksasa, loba, momo, moha, murka, De Pemescian serba banyak, Atita yata yata winaburu udan taber, setelah beliau meninggal berpulang ke surga, setelah itu diperintahkan untuk menjelma kembali menjadi manusia, dianugrahi / diciptakan sebagai laki dan perempuan, sesudah masuk kedalam kelapa gading diputar dengan Weda, setelah dibersihkan selayaknya bertapa di tengah Gunang Tohlangkir, agar mamuja Betara Pasupati saat turun ke Bali, sebagai penghulu Bumi / Tanah Bali, lalu dibagi oleh Sang Hyang Guru Pasupati di Gunung Mahameru, kenapa demikian karena Bali pisah dengan Bumi Selaparang / Lombok, kenapa demikian terkadang menyatu terkadang berpisah begitulah ceritanya dahulu.

Inilah Gunung di Bali pada zaman dahulu, ada empat Gunung yang dibuat oleh Betara Hyang Pasupati yaitu di sebelah timur ada Gunung Lempuyang, di sebelah selatan ada Gunung Andakasa, di sebelah barat ada Gunung Watukaru, di sebelah utara ada Gunung Beratan, itu lah yang menyebabkan bumi Bali tidak seimbang / terombang ambing, itulah sebabnya Betara Hyang Pasupati memotong Gunung Semeru, karena kasihan melihat Bali dan Lombok, segera dipotong Gunung tersebut aka diturunkan di Bali dan Lombok (Seleparang), Sibedawang Nala diperintahkan oleh Betara Pasupati sebagai dasar bumi, Sang Naga Antaboga dab Baga Basukih bertugas sebagai tali pengikat, Sang Naga Taksaka menerbangkan membawa ke Bali, yang diperintahkan oleh Sang Hyang Guru Pasupati.

Singkat cerita Gunung Semeru dibawa ke Bali pada hari kamis, Kliwon wuku Merakih, panglong ping 15 (limabelas) Sasih Karo, tenggek satu (1) icaka warsa Eka Tang Bumi (11).

Lama kelamaan setelah berusia 70 hari, Jumat Kliwon, waktu Tolu Sasih Kelima tanggal 4 (empat) rab penenggek 2 (dua) terjadilah hjan lebat disertai petir, gemuruh gempa bumi yang sangat besar. Gempa tersebut selama 2 (dua) tahun, icaka warsa 113 meletuslah Gunung Tohlangkir, muncul Ida Hyang Putranjaya diikuti oleh adiknya Betari Dewi Danuh, turun di Besakih bergelar Betara Hyang Maha Dewa, sedangkan adik beliau yang bergelar Betari Dewi Danuh berstana di Ulun Danu Batur, sedangkan Betara Hyang Gnijaya berstana di Gunung Lempuyang Luhur. Pada saat perjalanan beliau Betara Tiga yang diperintah oleh Hyang Guru Pasupati beginilah sabdanya :

Anakku Maha Dewi Danuh dan Gnijaya sekarang turunlah kalian ke Bali Raja / Tanah Bali dan sejahterakanlah Bumi Bali, kalian sebagai penghulu Bumi, begitu sabda Sang Hyang Guru Pasupati.

Lalu pergilah Betara Hyang Tri Purusa, tetapi ada permintaan dari Betara Tiga, daulat Hyang Betara karena kami masih anak-anak, belum tahu apa-apa, demikianlah perkataan Betara Tiga, kemudian di jawab oleh Betara Hyang pasupati, jangan kawatir anakku, akau merestui kalian, sebab kalian adalah anak-anakku, kalian akan dipuja di Bali, setelah itu dibungkuslah Betara Tiga dengan kelapa gading oleh Sang Hyang Guru Pasupati dengan kesaktiannya, setelah itu beranjaklah Betara Hyang Tiga, terlihat di angkasa perjlanan beliau.

Selanjutnya turun juga di Bali Sang Catur Hyang Betara yang juga putra Hyang Betara Pasupati di antaranya : Yang Betara Tumuwub berstana di Gunung Batukaru / Watukaru, Hyang Betara Manik Gumawang berstana di Gunung Beratan, Betara Hyang Manik Galangberstana di Pejeng, sedangkan Betara Hyang Tugu berstana di Gunung Andakasa, begitulah adanya Betara dahulu.

Lama kelamaan pada hari selasa kliwon Julungwangi, sasih Karo tanggal 1 (satu) rab 8 (delapan), tenggek 1 (satu) icaka warsa 118, lalu beryoga Betara Maha Dewa beserta Betara Hyang Gnijaya meletuslah kembali Hyang Toblangkir, timbullah lautan api dari payogan Ida Betara Hyang Gnijaya dinamai aliran api / bah geni, lalu muncullah dari Panca Bayu / kekyatan Ida Betara Hyang Gnijaya bernama Ida Mpu With a Dharma (Sri Maha Dewa) Sang Hyang Sidi Mantra Dewa Sangkul Putih dan yang terkecil bernama Ratuning Madura. Ida Mpu With a Dharma selanjutnya beryoga, kemudian lahirlah dua putra dari kekuatan yoga / batin beliau yang pertama Ida Mpu Brajastawa, (Mpu Wira Dharma), dan yang kedua Ida Mpu Dwi Jendra (Mpu Raka Kerta), lalu Mpu Dwijendra beryoga lahirlah dua orang putra beliau yang pertama bernama Gagakin (Bubuksah) yang kedua bernama Brahma Wisesa, lalu Brahma Wisesa beryoga semedi lahir dua orang putra beliau yang pertama Sira Mpu Dangring dan Sira Mpu Saguna. Lama kelamaan Sira Mpu Saguna beryoga semedi berputra lelaki bernama Sira Mpu Kepandeaan. Selanjutnya Mpu Kepandean berputra bernama Lurah Kepandean inilah yang menurunkan Maha Semaya Warga Pande di seluruh Bali. Sekarang direncanakan kembali Mpu Brajastawa beryoga semedi, muncullah putra beliau laki bernama Ida Mpu Tanuhun atau disebut juga Ida Mpu Lapita, selanjutnya Ida Mpu Lampita beryoga semedi lahirlah 5 (lima) putra beliau diantaranya : pertama bernama Brahmana Pandita, kedua Mpu Semeru / Mpu Maha Meru, ketiga Mpu Gana, Keempat Mpu Kuturan (Mpu Raja Kerta), kemudian yang paling bungsu bernama Mpu Paradah (Mpu Baradah). Demikianlah lima bersaudara tersebut disebut Sang Panca Pandita, Panca Tirta, dan juga disebut Panca Dewata. Lalu Sang Panca Pandita pulang kembali ke Gunung semeru, di sana beliau beryoga semedi memuja Sang Hyang Guru Pasupati sebagai leluhur beliau.

Sekarang diceritakan kembali dari yoga Betara Hyang Maha Dewa, lahirlah dua orang putra beliau yang pertama Batara Gana, kedua Dewi Manik Gni lalu mereka berdua beryoga di Gunung Semeru.

Demikianlah diceritakan para Mpu lahirnya di Bali, yang selanjutnya mengadakan tapa berata / yoga tapa berata di Gunung Semeru, tidak diceritakan selama beliau di Gunung Semeru. Betari Dewi Manik Gni diperistrikan oleh Sang Brahmana Pandita, setelah Apudgala bergelar Ida Mpu Gnijaya Sakti.

Diceritakan setelah beberapa lama beliau disana, maka ada sabda beliau Betara Hyang pasupati kepada Sang panca Pandita beginilah sabdanya :……………………

Kembali kecerita awal, Ida Mpu Gnijaya berputra 7 (tujuh) orang laki-laki disebut Sanak Sapta Pandita diantaranya : pertama, Ida Mpu Ketek, kedua Ida Mpu Kananda, ketiga Mpu Wiradnyana, keempat Mpu Witha Dharma, kelima Mpu Raga Runting, keenam Mpu Prateka, dan ketujuh Mpu Dangka. Sekalian beliau bertempat di Kuntulikutanah Jawa sekarang diceritakan Betara Hyang Pasupati bersabda kepada Mpu sekalian : wahai cucuku sekalian turunlah kalian ke Bali mengadakan yoga semedi, maka sepakatlah para Mpu sekalian. Lalu turunlah Mpu Semeru, perjalnan beliau tanpa halangan di Desa Kuntul Geding / Kedisan setelah lewat Gunung Tuluk Biyu tibalah di Besakih, menghadap Betara Putranjaya (Sri Maha Dewa) dan tak jarang pulang pergi ke Jawa dan ke Bali.

Sekarang diceritakan pada pemerintahan Sri Guna Priya Darma Patni (darma Udayana Warmadewa) di Bali pada tahun caka 910 sampai 922. Ida Mpu Catur Sanak di mohon turun ke Bali diantaranya. Ida Mpu Semeru / Mpu Mahameru pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, Palguna (purnama kaulu) tahun caka jadma Siratmaya Muka, 921 Beliau penganut Siwa Paksa, lalu berstana di Besakih. Ida Mpu Gana tiba di Bali pada senin Kliwon Kuningan tanggal ke 7 (tujuh) tahun caka 922, beliau menganut Ganapati, lalu berpariyangan / berstana di Gelgel sekarang bernama Pura Dasar Buana Gelgel. Ida Mpu Kuturan (Mpu Raja Kerta) tiba di Bali pada hari rabu, Kliwon Pahang tahun caka 923, beliau menganut Buda Mabayana lalu berstana di Desa Padang sekarang diceritakan yang paling akhir tiba di Bali Ida Mpu Gnijaya pada hari kamis Umanis Dungulan Waisaka Masa, Prati pada Sukla tahun caka 928 beliau menganut Brahma Yana, lalu berpariyangan / berstana di pura Lempuyang Madya. Sedangkan adik Beliau yang bungsu Ida Mpu Pradab tidak ikut turun ke Bali, beliau berstana di tanah Jawa di Lembah Tulis Pejarakan Tanah Jawa. Demikianlah ceritanya terdahulu.

Ida Mpu Kuturan (Mpu Raja Kerta) pada saat dijaman menjadi Ratu di Girab, setelah mengambil istri, kemudian berputrikan Diah Ratna Manggali, karena istri beliau menganut ilmu hitam, yang disebut Anesti Aneluh Anaranjana, sedangkan Ida Mpu Kuturan melaksanakan Darma Kepanditaan, menyebabkan istri dan Putri Beliau di tinggalkan di tanah Jawa. Istrinya dijuluki Janda / Rangda Nata Ing Girah. Ida Mpu Kuturan di Bali oleh Raja di Nobatkan menjadi Senopati, juga sebagai ketua pakira-kira Ijero Mekabehan, kemudian beliau mengadakan rapat / pertemuan agung di Bata Anyar. Pertemuan inilah yang melahirkan Desa Pekraman, aturan –aturan perhiyangan, kayangan tiga Pura Desa (Bale Agung). Pura Puseh, Pura Dalem di masing-masing Desa Pekraman sekarang disebut Desa Adat, dan di masing-masing perumahan sepatutnya dibangun pelinggih Rong Tiga, lama kelamaan disebut Hyang Kemulan tempat memuja leluhur. Kemudian agama disebut Siwa Budha yang dianut oleh masyarakat Bali, sehingga bersatulah rakyat Bali. Semua itu berkat karya Ida Mpu Kuturan yang lahir pada pesamuan agung agama tersebut.

Inilah putra dari Ida Mpu Gnijaya Sang Sapta Sanak, semua telah mengambil isteri di tanah Jawa diantaranya :

1. Ida Mpu Ketek ……..

2. Ida Mpu Kananda…….

3. Ida Mpu Wiradnyana …..

4. Ida Mpu With a Dharma…..

5. Ida Mpu Raga Runting ……

6. Ida Mpu Prateka ….

7. Ida Mpu Dangka beristri putrid dari Ida Mpu Sumedang, lalu beliau mempunyai putra : Ida Mpu Wiradangkya. Ida Mpu Wiradngkya beristrikan Ni Dewi Sukerthi, mereka mempunyai putra dan putrid bernama : Sang Wira Dngka, Ni Ayu Dangkida Ni Ayu Dangka beliau berstana di bumi Daha tanah Jawa. Diceritakan Sang Wira Dangka beristrikan Ni Ayu Kamareka kemudian beliau turun ke jagat Bali. Di Bali mereka menurunkan / melahirkan tiga (3) orang putra yang pertama De Lurah Pasek Gaduh beliau di Desa Peminggir Gegel Klungkung yang kemudian menurunkan Pasek Gaduh di seluruh Bali, yang kedua bernama De Pasek Lurah Ngukubin, beliau berstana di Desa Ngukuh, Peraupan, Peguyangan, Denpasar, yang kemudian menurunkan pasek ngukuhin di seluruh Bali. Kemudian yang paling bungsu bernama Ida Anglurah Kedangkan, beliau berstana di Banjar Kawan, Desa Selisihan, Kabupaten Klungkung, demikianlah keturunan Ida Mpu Dangka di seluruh Bali.

Sekarang diceritakan Ida Anglurah Kedangka pada pemerintahan Sri Gajah Wahana pada hari senin Umanis, wuku Sungsang, sasih Karo tahun caka 1257, Ida Anglurah kedangkan dinobatkan menjadi Amanca Bumi mengawasi Desa Selisihan, Desa Banjarangkan, Klungkung sampai wilayah Desa Taro Gianyar.

Diceritakan sekarang pada saat pemerintahan Sri Kresna Kepakisan sebagai raja di bali tahun 1272 beliau berstana di Samplangan Ida Anglurah Kedangkan di nobatkan menjadi Panglima Dulang Mangap olah Sri Kresna Kepakisan.

Diceritakan kembali para pasek setelah masing-masing memiliki keturunan, masing-masing memegang kekuasaan, memegang panugrahan Ida Dalem. Langgeng pemerintahan Ida Dalem disertai oleh pasek. Lama kelamaan Ki Pasek Gelgel beserta saudara-saudaranya berniat pamit kepada Dalem, Ida Dalem mengijinkan, beliau pasek gelgel berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya, lalu disetujui oleh saudara – saudaranya disertai oleh pengikutnya, Ida Anglurah Kedangkan setuju dengan Ki Pasek Gelgel. Setelah meninggalkan Dalem tidak diceritakan perjalanan pasek sekalian menuju beringin kembar di barat laut yang terlihat dari Bukit. Tidak diceritakan perjalanan beliau tibalah di tengah hutan di sebelah barat tukad jinah, lalu membuat Desa di sana juga beliau mendirikan pura sebagai tempat pemujaan ke Besakih dan ke Lempunyang. Tak lupa beliau beryoga ada panugrahan dari Ida Hyang Betara, muncullah mata air besar, bening berkilau, laksana bulan yang kemudian diberinama Toya Bulan sampai sekarang. Lalu beliau beryoga di puncak Gunung dan membangun perbiyangan sehingga ada Pura Puncak sampai sekarang.

Diceritakan kiyai Agung Pasek Gelgel melanjutkan perjalanan menuju pohon kembar, lalu dijumpai hutan EE, hutan tersebut dibabat oleh Kiyai Pasek gelgel. Sebab Hutan tersebut angker dan di huni oleh Raksasa, disana beliau berperang melawan raksasa, yang kemudian tewaslah raksasa, hutan tersebut dibabat di jadikan sebuah Desa bernama Desa Aan sampai sekarang.

Di sana Kiyai Igusti Agung Pasek Gelgel beserta putra dan pengikutnya berstana di Desa Aan. Sekarang Ida Anglurah Kedangka setelah lama ditempat itu berbicang-bincang para pengikutnya, karena tempat ini luas dan penduduknya jarang, sebagian besar ke Aan mengikuti Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel yang kemungkinan tidak kembali lagi. Diceritakan Ida Anglurah kedangka membagi Desa tersebut menjadi sawah, bukit dijadikan tegalan, dan juga Desa, oleh karena itu Desa tersebut diberi nama Desa Selisihan (Membagi) lalu membangun parhyangan paibon tempat memuja leluhur Ida Mpu Dangka sebagai kawitan pasek Dangka sampai sekarang.

Diceritakan sekarang Ida Anglurah Kadangka menurunkan 5 (lima) putra diantaranya : pertama Pasek Dangka Taro, berstana di Desa Taro Tegalalang, Kabupaten Gianyar, kedua bernama Pasek Dangka Penida, berstana di Banjar Penida Kaja, Desa Penida, Kecamatan Tembuku, Bangli, ketiga bernama Pasek Gangka Banjarangkan beliau berstana di Banjar Dukuh Nyalian, Banjarngkan Klungkung, sedangkan yang paling bungsu / kelima bernama Pasek Dangka Selisihan, beliau tetap tinggal di Selisihan, merawat / menjaga leluhurnya yaitu di Banjar Kawan Desa Selisihan, Kabupaten Klungkung. Itulah para putra Ida Anglurah Kedangka dan tidak diceritakan perjalanan dari mereka tentang telah menurunkan putra yang tinggal di seluruh Bali bahkan di seluruh Indonesia.

Dicoba untuk disadur / diartikan

kedalam bahasa Indonesia

tanggal, 19 Mei 2009.